Sabtu, 01 Desember 2012

Proposal penelitian “Analisis Kinerja Keuangan Pada Bank Pembangunan Daerah (BPD) Sulawesi Tenggara Periode 2006-2010.”


BAB I
PENDAHULUAN

1.1       Latar Belakang
Perkembangan didunia perbankan yang sangat pesat serta tingkat kompleksitas yang tinggi dapat berpengaruh terhadap performa suatu bank. Kompleksitas usaha perbankan yang tinggi dapat meningkatkan resiko yang dihadapi oleh bank-bank yang ada di Indonesia. Prasnanugraha (2007 : 14) menjelaskan bahwa :
“Permasalahan perbankan di Indonesia antara lain disebabkan depresiasi rupiah, peningkatan suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) sehingga menyebabkan meningkatnya kredit bermasalah. Lemahnya kondisi internal bank seperti manajemen yang kurang memadai, pemberian kredit kepada kelompok atau group usaha sendiri serta modal yang tidak dapat mengcover terhadap resiko-resiko yang dihadapi oleh bank tersebut menyebabkan kinerja bank menurun.”

Hal ini menyebabkan perbankan di Indonesia dihadapkan pada tingkat persaingan yang semakin ketat. Pelaku bisnis harus selalu siap menghadapi berbagai perubahan yang terjadi dengan cepat agar dapat bertahan dalam situasi krisis dan memenangkan persaingan dalam era globalisasi. Dimana krisis keuangan yang melanda Indonesia pada pertengahan tahun 1997 memberi dampak yang sangat buruk pada sektor perbankan. Febryani dan Zulfadin dalam www.docstoc.com menyatakan bahwa beberapa indikator kunci perbankan dalam tahun 1998 berada pada kondisi yang sangat buruk. Kinerja industri perbankan nasional pada waktu itu jauh lebih buruk dibandingkan kondisi perbankan di beberapa negara Asia yang juga mengalami krisis ekonomi, seperti Korea Selatan, Malaysia, Philipina dan Thailand. Terpuruknya sektor perbankan akibat krisis ekonomi memaksa pemerintah melikuidasi bank-bank yang dinilai tidak sehat dan tidak layak lagi untuk beroperasi. Hal ini mengakibatkan timbulnya krisis kepercayaan dari masyarakat terhadap industri perbankan.
Berdasarkan kondisi tersebut, selain adanya dukungan dari pemerintah dan otoritas pengawas sektor perbankan, untuk menjaga agar bank-bank di Indonesia ini tetap eksis dan beroperasi secara terus-menerus maka setiap manajemen bank tersebut dituntut lebih aktif dalam mengendalikan seluruh potensi sumber daya yang dimilikinya. Salah satu caranya yaitu kinerja perbankan harus ditingkatkan karena kinerja merupakan salah satu faktor penting yang menunjukkan efektifitas dan efisiensi suatu organisasi dalam rangka mencapai tujuannya. Kinerja perbankan adalah hasil yang dicapai suatu bank dalam mengelola sumber daya yang ada secara efektif dan efisien guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan manajemen (Farid dan Siswanto, 1998). Penilaian Kinerja dimaksudkan untuk menilai keberhasilan suatu organisasi. Penurunan kinerja secara terus menerus dapat menyebabkan terjadinya financial distress yaitu keadaan yang sangat sulit bahkan dapat dikatakan mendekati kebangkrutan. Financial Distress pada bank apabila tidak segera diselesaikan akan berdampak besar pada bank tersebut yaitu hilangnya kepercayaan dari nasabah. Oleh karena itu, penilaian kinerja sangat diperlukan.
Selain itu dapat dilakukan melalui pengelolaan sistem keuangan. Hal ini dilakukan karena keuangan merupakan faktor penunjang dalam melaksanakan kegiatan operasional perusahaan. Dalam hal ini, laporan keuangan merupakan salah satu instrumen yang tepat untuk dipelajari dalam mengevaluasi dan mengukur kinerja keuangan perusahaan karena di dalamnya terdapat informasi yang penting meliputi informasi keuangan tentang hasil usaha maupun posisi finansial dari perusahaan bank tersebut. Laporan keuangan juga berisikan informasi keuangan yang mencerminkan kesehatan dan kemampuan perusahaan yang bersangkutan. (Setiawan, 2009 : 4).
Laporan keuangan pada dasarnya adalah hasil akhir dari proses akuntansi pada suatu periode tertentu yang merupakan hasil pengumpulan data keuangan yang disajikan dalam bentuk laporan keuangan ataupun ikhtisar lainnya yang dapat digunakan sebagai alat bantu bagi para pemakai di dalam menilai kinerja perusahaan sehingga dapat mengambil keputusan yang tepat. Salah satu alasan dilakukannya analisis terhadap kinerja keuangan adalah menilai kinerja perusahaan. Dimana penilaian kinerja dilakukan untuk mengetahui tingkat efisiensi dan efektivitas organisasi dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Penilaian kinerja suatu perusahaan dapat dilakukan dengan menganalisis dua aspek, yakni kinerja financial dan kinerja non-financial. Kinerja financial dapat dilihat melalui data-data laporan keuangan, sedangkan kinerja non-financial dapat dilihat melalui aspek-aspek non-financial, diantaranya aspek pemasaran, aspek teknologi maupun aspek manajemennya. (Aulia, 2007 : 2).
Banyak pihak yang berkepentingan dengan penilaian kinerja pada sebuah perusahaan perbankan, diantaranya bagi para manajer, investor atau calon investor, pemerintah, masyarakat bisnis maupun lembaga-lembaga lain yang terkait. Dengan kinerja perbankan yang baik akan menarik minat investor untuk melakukan investasi pada sektor perbankan. Karena investor melihat semakin sehat suatu bank maka manajemen bank tersebut bagus, serta diharapkan bisa memberikan return yang memadai. Hal ini penting bagi investor sebelum melakukan investasi, karena bagaimanapun juga, investor akan berusaha untuk mencari return yang tinggi (Dedy, 2003:3).
Pemerintah sangat berkepentingan terhadap penilaian kinerja suatu lembaga keuangan, sebab mempunyai fungsi yang strategis dalam rangka memajukan dan meningkatkan perekonomian negara. Sedangkan masyarakat sangat menginginkan agar badan usaha pada sektor lembaga keuangan ini sehat dan maju sehingga dapat dicapai efisiensi dana, berupa biaya yang murah dan efisien (Ardana, 2003:3-4).
Di antara berbagai bank yang ada saat ini berada di Provinsi Sulawesi Tenggara pada umumnya dan di Kota Kendari pada khususnya, Bank Pembangunan Daerah (BPD) Sulawesi Tenggara merupakan salah satu bank yang memegang peranan penting terhadap pengembangan perekonomian daerah. Keistimewaan yang utama adalah BPD Sultra merupakan pemegang kas daerah dan menjadi salah satu sumber pendapatan asli daerah melalui berbagai produk perbankan yang dikeluarkannya. Karena adanya fungsi yang khusus dijalankan oleh BPD Sultra itu, maka kinerja manajemen tidak hanya akan menjadi perhatian masyarakat saja, namun juga oleh pemerintah provinsi dan daerah yang menanamkan modal daerahnya di bank ini. Kinerja manajemen yang diharapkan akan terlihat pada kemampuan BPD Sultra dalam menghimpun dan mengelola dana masyarakat untuk kemudian memberikan nilai tambah bagi daerah.
Untuk memperoleh gambaran singkat mengenai keadaan keuangan pada Bank Pembangunan Daerah Sulawesi Tenggara dalam kurun waktu lima tahun terakhir yakni  tahun 2006-2010 dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Tabel 1.1 Rincian Keadaan Keuangan
Bank Pembangunan Daerah (BPD) Sulawesi Tenggara
Tahun 2006-2010
(Dalam jutaan rupiah)
Keterangan
Tahun
2006
2007
2008
2009
2010
Pendapatan
137.260
168.015
196.427
253.077
319.870
Biaya Operasional
72.699
80.811
101.586
138.416
207.329
Laba
43.992
60.703
61.841
55.468
81.500
Total Asset
1.154.190
1.102.838
1.144.964
1.558.990
1.669.787
Hutang
1.021.652
890.282
905.998
1.280.707
1.356.703
Modal
132.437
212.556
238.966
278.283
313.083
Sumber: Laporan Keuangan BPD Sultra Tahun 2006-2010
           
Berdasarkan tabel 1.1 di atas terlihat bahwa keadaan keuangan BPD Sulawesi Tenggara mengalami fluktuasi dimana pendapatan Bank Pembangunan Daerah Sulawesi Tenggara untuk tahun 2007 mengalami peningkatan sebesar sebesar Rp22.755 juta atau 16,58% yaitu dari Rp137.260 juta tahun 2006 menjadi Rp168.015 juta pada tahun 2007. Pendapatan BPD Sultra tahun 2008 meningkat sebesar Rp. 28.413 juta atau 16,91% yaitu dari Rp. 168.015 juta tahun 2007 menjadi Rp.196.427 juta pada tahun 2008. Pendapatan BPD Sultra tahun 2009 mengalami peningkatan sebesar Rp. 56.651 juta atau 28,84% yaitu dari Rp.196.427 juta tahun 2008 menjadi Rp.253.077 juta tahun 2009. Pendapatan BPD Sultra  tahun 2010 mengalami peningkatan sebesar Rp. Rp.66.790 juta atau 26,39% yaitu dari Rp.253.077 juta tahun 2009 menjadi Rp.319.870 juta tahun 2010.
Biaya operasional BPD Sulawesi Tenggara tahun 2007, telah dikeluarkan biaya sebesar Rp.80.811 juta, naik sebesar Rp.8.112 juta atau sebesar 11,16% dari realisasi biaya tahun 2006 sebesar Rp.72.699 juta. Pada tahun 2008, telah dikeluarkan biaya sebesar Rp. 101.980 juta, dimana biaya ini naik sebesar Rp. 52.797 juta atau sebesar 65,33 % dari realisasi biaya tahun 2007 sebesar Rp.80.811 juta. Biaya Operasional pada tahun 2009 sebesar Rp.138.416 juta atau naik sebesar Rp.36.830 juta dari tahun 2008 yaitu sebesar Rp.101.586 juta. Tahun 2010 kembali mengalami peningkatan sebesar Rp.68.913 juta yaitu dari  Rp.138.416  juta menjadi Rp.207.329 juta pada tahun 2010.
Perolehan laba bersih BPD Sulawesi Tenggara tahun 2007 sebesar Rp.60.704 juta atau meningkat sebesar 37,99% dibandingkan tahun 2006 sebesar Rp43.992 juta. Pada tahun 2008 Laba BPD Sultra Rp.61.841 juta meningkat sebesar Rp.1.1376 juta atau 1,01% dibandingkan perolehan laba bersih pada tahun 2007 sebesar Rp.60.704 juta. Perolehan laba bersih tahun 2009 sebesar Rp.55.468 juta atau menurun sebesar Rp.6.373 juta atau 11,49% dibandingkan tahun 2008 sebesar Rp.61.841 juta. Tahun 2010 laba bersih BPD Sulawesi Tenggara meningkat sebesar Rp.26.033 juta atau 46,93% yaitu dari Rp.55.468 juta tahun 2009 menjadi Rp.81.500 juta untuk tahun 2010.
Perkembangan total asset BPD Sulawesi Tenggara tahun 2007 sebesar Rp1.102.839 juta atau mengalami peningkatan sebesar Rp.48.251 juta dari tahun 2006 sebesar Rp1.154.090 juta. Pada tahun 2008 total asset BPD Sultra mengalami peningkatan sebesar Rp. 42.125 juta yaitu dari Rp.1.102.839 juta tahun 2007 menjadi Rp.1.144.964 juta tahun 2008. Sedangkan untuk tahun 2009 mengalami peningkatan sebesar Rp.414.027 juta atau 36,16% yaitu dari Rp.1.144.964 juta tahun 2008 menjadi Rp.1.558.991 juta tahun 2009. Total Asset BPD Sultra tahun 2010 meningkat sebesar Rp.110.796 juta atau 7,11% dari posisi sebesar Rp.1.558.991 juta tahun 2009 menjadi Rp.1.669.787 juta tahun 2010.
Total Hutang Bank Pembangunan Daerah Sulawesi Tenggara mengalami fluktuasi. Pada tahun 2007, hutang BPD Sultra menurun sebesar Rp.131.370 juta, dimana pada tahun 2006 total hutang BPD Sultra mencapai Rp.1.021.652 juta menjadi Rp.890.282 juta. Pada tahun 2008 total hutang BPD Sultra meningkat sebesar Rp.15.715 juta dari Rp.890.282 juta ditahun 2007 menjadi Rp.905.998 juta pada tahun 2008. Pada tahun 2009 hutang BPD Sultra sebesar Rp.1.280.707 juta dan padda tahun 2010 total hutang BPD Sultra mencapai Rp.1.356.703 juta.
Modal Dasar Bank Pembangunan Daerah Sulawesi Tenggara sesuai Perda No. 10 tahun 2004 tanggal 21 September 2004 berjumlah Rp150.000.000.000 (Seratus lima puluh miliar rupiah). Pada tahun 2006 total ekuitas BPD Sultra sebesar Rp.132.437 juta. Sedangkan pada tahun 2007 total ekuitas BPD Sultra telah mencapai sebesar Rp.212.556 juta dalam hali ini modal tersebut meningkat sebesar Rp.80.119 juta atau 60,49%. Pada tahun 2008 total ekuitas BPD Sultra mencapai Rp.238.966 juta atau mengalami peningkatan sebesar Rp.26.409 juta atau 12,42%. Pada tahun 2009 total ekuitas BPD Sultra telah mencapai Rp.278.283 juta. Pada tahun 2010 total ekuitas BPD Sultra meningkat sebesar Rp. 34.799 juta dari Rp.278.283 juta ditahun 2009 menjadi Rp.313.083 juta.
Berdasarkan informasi dan uraian mengenai keadaan keuangan BPD Sulawesi Tenggara, dapat terlihat bahwa rekening-rekening data keuangan tersebut mengalami fluktuasi. Dimana rekening-rekening data keuangan tersebut merupakan suatu indikator laporan keuangan, namun untuk mengukur kinerja keuangan perbankan dilakukan dengan cara menghitung rekening-rekening keuangan tersebut menggunakan rasio-rasio keuangan. Untuk mengetahui apakah peningkatan dan penurunan yang terjadi pada data rekening-rekening keuangan tersebut berpengaruh terhadap kinerja keuangan BPD Sulawesi Tenggara, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Analisis Kinerja Keuangan Pada Bank Pembangunan Daerah (BPD) Sulawesi Tenggara Periode 2006-2010.”

1.2       Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka pokok permasalahan dalam penelitian ini adalah “Bagaimana kinerja keuangan Bank Pembangunan Daerah (BPD) Sulawesi Tenggara yang diukur berdasarkan Aspek Permodalan (CAR), Aspek Kualitas Aktiva (KAP), Aspek Rentabilitas (ROA, NIM, BOPO), dan Aspek Likuiditas (LDR) Periode 2006-2010?”
1.3       Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kinerja keuangan Bank Pembangunan Daerah (BPD) Sulawesi Tenggara yang diukur berdasarkan Aspek Permodalan (CAR), Aspek Kualitas Aktiva (KAP), Aspek Rentabilitas (ROA, NIM, BOPO), dan Aspek Likuiditas (LDR) Periode 2006-2010.

1.4       Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
a.       Penelitian ini merupakan aplikasi teori yang selama ini diperoleh dalam perkuliahan dan agar dapat memenuhi tugas akhir dalam menempuh program studi S1 Akuntansi di Fakultas Ekonomi Universitas Haluoleo.
b.      Meningkatkan pengetahuan dalam menganalisis kinerja keuangan suatu Bank sehingga diketahui faktor-faktor yang menyebabkan suatu bank dapat dikatakan sehat.
c.       Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi kontribusi yang baik bagi Bank Pembangunan Daerah (BPD) Sulawesi Tenggara dalam proses menilai kinerja perusahaan pada aspek keuangan.
d.      Sebagai bahan referensi dan perbandingan bagi peneliti selanjutnya yang terkait dengan judul ini.



1.5       Ruang Lingkup
Agar penelitian ini dapat terarah dan tidak menyimpang dari permasalahan yang ada, maka ruang lingkup penelitian ini dibatasi pada Analisis kinerja keuangan Bank Pembangunan Daerah (BPD) Sulawesi Tenggara yang diukur berdasarkan Aspek Permodalan (CAR), Aspek Kualitas Aktiva (KAP), Aspek Rentabilitas (ROA, NIM, BOPO), dan Aspek Likuiditas (LDR) Periode 2006-2010.

Tidak ada komentar: